Sabtu, 23 November 2013

kumpulan novel new

Ok friend , kita tau bahwa dalam kehidupan sehari-hari pasty kita dilingkupi dengan berbagai cerita. Nah, pasty'a friend juga suka dong baca2 novel, apalagi novel yang NEW.  And kali ini gue mau memberikan info tentang novel yang lagi nge_tren ni., Next, kita liat aja yuks .,

# TRUE LOVE
Karya Dina Pertiwi
Cinta sejati. Apakah kalian percaya akan itu? Akan "Cinta Sejati" yang konon katanya dimiliki oleh semua orang? Cinta yang katanya sangat indah dan menyenangkan? Mitos cinta sejati yang terus menerus melolong dihatiku.
***

Kupandangi bingkai biru di tepi tempat tidurku. Aku tersenyum menatap benda yang ada didalam bingkai itu.

Bukan sebuah foto ataupun lukisan. Hanya sebuah kertas lusuh. Kertas catatan PKN yang aku robek dari buku miliknya 2 tahun lalu saat perpisahan SMP. Dia sama sekali tidak tahu aku merobek buku catatanya. Bahkan, mungkin dia tidak mengenalku. Aku hanya satu dari ratusan penggemarnya di sekolah.
Dia bukan artis. Dia adalah siswa tampan dan cerdas di sekolahku. Dia kaya dan pintar dalam bidang olahraga. Sifatnya yang cuek justru menjadi daya tarik bagi para kaum hawa, termasuk aku. Tapi, bisa dibilang, aku tidak terlalu menunjukkan diri bahwa aku menyukainya. Terbukti. Aku tidak pernah menyapa ataupun menegurnya. Aku menyukainya lewat diam.

Bahkan, robekan catatan PKN itu aku ambil diam- diam untuk kenang- kenanganku karena aku tahu dia akan melanjutkan study ke L.A.

Aku kembali tersenyum manis saat melihat robekan catatan itu. Orang bilang, apapun itu, jika memang jodoh, maka dia akan kembali lagi dan lagi. Dan aku percaya dia akan kembali kulihat.

Aku mengeluarkan kertas itu dari bingkainya. Kupeluk- peluk dan kubelai. Ku ajak tertawa dan tersenyum.

Gila. Konyol memang. Setelah puas dengan kegiatanku itu, aku meletakkan kertas itu di atas meja belajarku. Dan...
Syuuuut...
Angin bertiup menerbangkan kertas kenangan itu keluar jendela dan jatuh dipekarangan. Dengan sigap aku keluar rumah dan mengejar kertas itu. Itu adalah satu- satunya milikku yang mampu membuatku mengingatnya.

Saat aku hampir mendapatkanya, angin kembali meniupnya menjauhiku. Argh! Angin ini! Batinku kesal.

Aku kembali mengejar kertas itu. Dan saat aku hampir mendapatkannya kembali...
"Argh!! Sial banget sih?! Malah keinjek lagi!" seruku kesal saat tahu kertas itu di injak seseorang. Orang itu mengambil kertas yang ada di injakannya itu. Aku masih menatap jalanan berdebu dengan kesal.
"Jadi, daritadi kamu ngejar kertas ini ya?" ucap orang itu. Suara bariton yang ku kenal. Ku tengadahkan kepalaku menatap wajah dari si pemilik suara.

DEG!!!
Di... Diakan? Diakan pemilik kertas itu sebenarnya? Vigo. Cowok tampan, keren dan pintar itu... Bagaimana bisa?
"Ma... af. Aku ngerobek kertas itu...."
"gapapa kok Dina. Beneran deh gapapa. Karena, aku juga udah foto kamu diam- diam waktu itu." akunya padaku. Dia... Tau namaku?
"foto?! Diem- diem?"
"Lebih baik, kita nostalgianya ditaman aja deh." ucapnya sambil menarik tanganku ke taman.
***

Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Fotoku ada dalam dompet Vigo?
"Aku dulu suka banget sama kamu Dina. Karena, kamu itu satu- satunya cewek yang gak pernah negur aku. Kamu cuek dan aku suka itu." ucapnya sambil tersenyum.
"Dulu, aku berharap bisa kenal dan pacaran sama kamu. Tapi, dekat kamu aja aku udah gemetaran, apalagi ngobrol sama kamu..." ucap Vigo lagi. Lalu dia menatap robekan kertas itu.
"Aku tau kok, kamu ngerobek kertas ini. Cuma aku pura- pura gatau aja. Aku seneng banget waktu kamu robek kertas ini. Karena itu artinya, kamu juga suka sama aku. Iyakan?" ucapnya yang membuatku tersipu malu.
"Ikh... Kok diem aja?" ujarnya sambil mencubit pipiku pelan.
"aku bingung mau ngomong apa..."
"Kamu percaya mitos True Love gak?"
"True Love? Emang ada?" tanyaku.
"mulanya, aku juga gak percaya. Tapi malem ini aku percaya. True Love aku udah aku temuin lagi. Aku suka kamu." ucapnya sambil natap bintang.
"udah jam 12 belom?" tanyanya.
"udah. Udah jam 12 tepat."
"Happy Birthday Dina :). Will you be My True Love?"

Apakah dia menyatakan perasaannya. Tanpa sadar, aku mengucapkan
"yes. I will."
***

Percaya atau tidak, itulah faktanya. True love akan datang. Sejauh dan sesulit apapun, Cinta Sejati akan mencari jalan lagi dan lagi untuk kita temukan. :)
http://www.lokerseni.web.id/2013/01/the-meaning-of-love-cerpen-remaja.html

# PACAR MAKAN TEMAN
Karya Titin Dewi J.P
Matahari mulai mendaki kaki sang langit. Perlahan-lahan beranjak dari peraduannya, hingga kehangatannya mulai terasa oleh makhluk-makluk bumi. Tak begitu panas, namun cukup hangat hingga membuat orang malas keluar rumah lantaran takut kena sinar UV. Namun bagiku itu adalah anugrah, karena dengan begitu aku bisa nyuci baju yang belum aku cuci seminggu dan menumpuk di pojok kamar kecil kosan ku.

Aku Vika, sejak awal masuk kuliah di Universitas Jember aku tak pernah punya kenalan cowok yang cocok di hatiku buat jadi pacar plus driver buatku. Yahhh…. Akhirnya gini deh, kemana-kemana harus on foot with my soulmate, Tiara. Tapi gag papa, karena temenku yang satu ini gokil banget, waaupun sebenernya kita udah sahabatan dari awal masuk SMK, tapi kegokilannya jadi makin parah setelah masuk kuliah ini.

Tak kusangka nomor nyasar dua hari yang lalu menjadi awal dari cerita ini. Awalnya sih dia kirim message ke aku. Akunya sih biasa aja, kan emang dasarnya cewek cuek-cuek gitu. Padahal kalo’ dicuekin balik pasti gag mau.
“Mau aku jemput gag..?? mau yaa.. yaaa..yaaa… sekalian ketemuan gitu”, katanya lewat sms yang dikirim ke my cell phone setelah aku bilang kalo’ aku lagi di bus, habis mudik. Dan aku iya’in aja. 
Kan lumayan dapet ojek gratis. Hehehe…
Ketika aku turun dari bus aku bingung yang mana orangnya, karena ini adalah pertama kita ketemu semenjak kita chat lewat message seminggu yang lalu. Dan di seberang jalan tepat arah jam dua belas aku melihat sesosok tubuh sedang menunggu. Mungkinkah dia..??
“Vika yaaa…,” katanya sambil menghampiriku.
“Iya… kamu Findra ta…??” sahutku kemudian.
Lalu dia menjabat tanganku seperti orang maaf-maafan pas lebaran. Aku tertawa dalam hati. Akupun berfikir kekonyolan macam apa ini hingga membuatku salah tingkah seperti ini. Tanpa ku sadari aku senyam-senyum sendiri tak tau apa yang sedang ku fikirkan.
“Thanks ya… dah nganterin jemput and nganterin aku ke kosan..” kataku sesampainya di depan pintu gerbang kosanku yang agak mewah itu.
“Oke… kalau butuh apa apa hubungi aku, jangan sungkan sungkan…” jawabnya sambil melontarkan senyuman.

Dan Findra pun berlalu pulang. Namun benakku masih merekan jelas bayangannya. Tak kusangka dia orangnya baik, enak diajak ngomong, lucu, nyambung, and yang terpenting aku ngerasa nyaman didekatnya. Duuhhh… kok jadi aneh gini sih aku..
“Kenapa kamu senyam-senyum gitu, kesambet setan darimana loe chuy…”, celetuk sahabatku Tiara yang tiba tiba muncul di hadapanku.
“Gila loe, aku kaget nie..” sahutku.

Aku pun berlalu meninggalkannya yang masih melongo kayak kebo di depan pintu kamar gara gara heran lihat aku senyum senyum. Mungkin dia baru sadar kalau senyumanku ini bisa mengalihkan dunianya. Dan itulah yang terjadi, dunianya beralih menjadi dunia yang penuh tanda tanya.
Lama lama aku kasihan juga melihat sahabatku, dari tadi aku saksikan wajahnya menyimpan pertanyaan. Akhirnya aku putuskan untuk menceritakan apa yang membuat aku seperti ini. Dan dia Cuma melongo, dan kali ini dia gag kayak kebo tapi lebih parah lagi, dia kayak sapi ompong yang gag punya gigi. Namanya aja ompong jelas aja gag punya gigi, dasar oon gue.

Tiga hari kemudian aku diajak nonton sama Findra. Setelah nonton kita berdua dinner, terus muterin alun-alun gag jelas tujuannya sambil ngobrol gag jelas juga. Lalu kita berhenti di kedai ice cream cone kesukaanku and Tiara. And disitu dia nyatain perasaannya sama aku. Dia nembak aku. Dan aku langsung kena tembakannya. Jadi malam itu aku jadian sama dia.
Seminggu berlalu, dan aku punya rencana nyomblangin Tiara sama sepupunya Findra, Herma namanya. Dua hari kemudian mereka jadian. Dan itu tandannya aku berhasil jadi mak comblang. Wahh, jadi kayak kontak jodoh aja nih aku.
“Besok mudik gag chuy..??” Tanya Tiara sepulang dinner sama Herma.
“Kasih tau gag yaaa…” celetukku menggodanya.
“Hhhmmm… kalo’ pulang sih ayo bareng aja, soalnya aku mau dianterin Herma, ntar kamu sama Findra yaaa…” terangnya kemudian.
Aku berpikir sejenak, lalu manggut manggut pertanda setuju.

Waktu mudik pun tiba. Sudah biasa bagi anak kos seperti kami selalu pulang saat week end tiba, jika nggak punya uang. Tapi kalo’ masih full kantongnya kami hanya menunggu next week end. Namun mudik kali ini akan lebih panjang karena seminggu full kita libur untuk minggu tenang. Suara sepeda motor yang berhenti di depan gerbang kosanku membuatku harus cepat cepat keluar, karena aku tau kalo’ itu Findra and Herma driver and co driver kami. Hehehe.

Dan benarlah bahwa mereka telah siap untuk mengantar para putri ke istana. Akhirnya kamipun meluncur menuju ke terminal Pakusari, tempat dimana aku dan Tiara biasa menunggu bus. Sesampainya di terminal kami berempat saling chatting. Findra pacarku, asyik ngobrol dengan sahabatku Tiara tanpa menghiraukan keberadaanku dan Herma. Namun aku tak curiga sedikitpun, karena aku percaya sahabatku tak mungkin menyakitiku.

Bus yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dan kami pun berpisah. Setelah aku dan Tiara masuk ke dalam bus, Tiara cerita tentang apa yang dia omongin sama Findra tadi. Sahabatku ini memang selalu terbuka denganku. Apapun yang ia rasakan entah itu sedih atau bahagia, pasti dia selalu menceritakannya padaku.

Suatu sore setelah dua hari aku berada di rumah, Tiara memberi tau aku kalau dia putus sama Herma. Aku tanyai apa alasannya putus, dan dia menjawab kalau ternyata Herma sudah punya pacar. Aku jadi ngerasa bersalah sama dia, karena aku yang menyomblangkannya dengan Herma. Tapi aku berusaha menenangkan diri dan mencoba menghibur sahabatku itu. Akhirnya diapun merelakan hubungannya yang harus kandas secepat itu.

Tak kusangka kalau putusnya Sahabatku dan Herma akan berimbas padaku. Dua hari kemudian Tiara memberitahuku sebuah berita yang sebenarnya tak ingin kudengar, karena itu sungguh membuatku muak. Sebenarnya aku tak mau mengingatnya, tapi karena aku harus bercerita padamu jadi terpaksa deh ku buka kembali memori otakku untuk mengingat kata kata itu. Dan inilah kata-katanya lewat message yang dikirimkan padaku..
“Chuy kamu ngerasa aneh gag sih sama Findra..?? masa’ dia bilang gini ke aku… I LOVE YOU..”
Dan setelah itu aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Findra. Walau aku tau sahabatku tak mungkin menghiraukan kata-kata itu. Namun aku ngerasa Findra memang bukan untukku dan dia kayaknya gag beneran sayang sama aku. Buktinya dia masih ngelirik sahabatku. Bahkan disaat statusnya masih pacaran denganku dia berani bilang LOVE pada sahabatku sendiri.

DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2013/01/pacar-makan-teman-cerpen-cinta-remaja.html#ixzz2lTaA1m00

# CINTA BERSEMI DI PUTIH ABU-ABU
Karya Ajeng Novrianna Putri

Pada suatu hari ada seorang remaja berusia 16 tahun , bernama Azkia ia duduk di bangku kelas 10 SMA, ketika ia sedang diperjalanan menuju ke sekolah ia mendapatkan teman baru bernama Ira, Ira adalah anak kelas10.B, sedangkan , Azkia anak kelas 10.D. Ketika sampai di sekolah ia dan Ira menuju kelas 10.B dulu , yaitu kelasnya Ira. Seiring berjalannya waktu sekarang sudah semester2 , kebetulan exkul Azkia dan Ira sama yaitu PMR dan Ira mengenalkan temannya yang ikut exkul PMR juga kepada Azkia , yaitu Lia , mereka pun ikut lomba PMR di SMAN21, mereka sebagai PK ( Pertolongan Keluarga ) , hasil pengumuman pun sudah tiba ternyata mereka kalah tapi tidak apa – apa karena mereka baru pertama kali ikut lomba PMR oy David juga mengikuti lomba PMR tetapi ia sebagai tandu, David adalah seorang cowok yang Azkia sukai.

Ujian Kenaikan Kelas pun sudah tiba hari ini adalah hari pertama UKK lumayan susah sih tapi harus tetap bisa mengerjakan soal.
Cinta Bersemi di Putih Abu-abu
Hari terakhir UKK pun sudah tiba, pulang sekolah Azkia, Ira, dan Lia jalan – jalan bersama ke TMII (Taman Mini Indonesia Indah) untuk menghilangkan stress setelah UKK, dan sekaligus perpisahan dengan Ira, tapi tentu saja mereka minta izin orang tua dulu dan juga ganti baju,
Hari ini adalah hari yang ditunggu – tunggu yaitu adalah hari pengambilan raport UKK dan ternyata Azkia naik kelas , lia , Ira dan David juga. Tapi Ira pindah ke Lombok karna ayahnya bekerja di sana.
Besok adalah hari pertama masuk kelas 11, setiba di sekolah Azkia langsung mencari cari namanya di kertas yang di tempel di kelas – kelas , ia mencari di kelas 11.C, 11.D dan 11.E tapi tidak ada namanya ternyata ia mendapatkan kelas 11.F yaitu kelas terakhir ia sangat terkejut padahal di semester 2 ia mendapatkan rangking 10 besar, tapi yasudahlah dan ia pun membaca nama – nama anak kelas 11.F ia terkejut karena ada nama David abidya yaitu cowok yang ia sukai dari kelas 10 sampai kelas 11 , ia pun senang karena bisa satu kelas dengan David, walaupun mereka duduknya berjauhan .

Dan waktu Azkia mengetahui siapa wali kelas nya di kelas 11 ia terkejut ternyata wali kelasnya adalah wali kelas nya yang dulu saat ia masih duduk di bangku kelas 10 yaitu Bapak Roni.
Esoknya ada murit baru yang datang yaitu Remi, Aldo, Eni, Deni, dan Nita, mereka pindahan dari Jakarta.
Dan hari ini ada murit baru lagi, badannya tinggi dan besar namanya Riel, walaupun namanya dari R, tapi karna ia murit baru namanya jadi absen paling bawah.

Hari ini adalah hari yang paling seru, ada temanku yang bernama Ardi yang menembak Bery,” so sweeeeeeeeet ” ucap anak kelas 11.F. O ya, baru saja kemarin ada yang jadian hari ini ada yang jadian lagi, mereka adalah Aldo yang anak baru itu , menembak temanku yang bernama Ibel” uuuuuuh si Aldo nembak si Ibel ga kalah keren sama si Ardi” ucap Indah, “aduuuuuuuuuuh bulan oktober ini kayaknya bulan yang so sweeeeeeeeeeet banget, soalnya banyak banget temen – temen yang baru aja jadian” ucap Yunita “duuuuuuuuuh kapan ya ada yang nembak aku? ’’ pikir Azkia dalam hati.
Hari ini adalah hari Ulang Tahun sahabatnya namanya Indah, Azkia dan teman – teman memang sudah merencanakan akan berpura – pura merasa acuh,cuek dan menghindar kalau Indah menghampiri mereka, seolah Indah menjadi musuh di kelas.

Sewaktu pulang sekolah, Indah disiram air yang sudah dimasukan daun dan kertas, Indah pun terkejut dan menangis.

Sementara itu ada cowok yang bernama Gusti, menghampiri Indah dan menyatakan cinta padanya,” iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii *_* lucu banget nyampein kata – katanya, hahaha ^_^”, semua orang yang ada di kelas semuanya tertawa, tapi Gusti terlambat, karena Indah dan Febri sudah lama jadian, “uuuuuuuuuuuuuuuuh >_< kasian, kayaknya ada yang lagi patah hati nih”. Ucap semua anak di kelas.
“Apa sih sebenarnya CINTA itu?” ucap Azkia, dia menulis di GOOGLE, di WIKIPEDIA, di YAHOO, tapi tetap saja belum mengerti.

Akhirnya Azkia bertanya pada sahabatnya Indah, dan apa jawaban Indah, indah menjawab“ Cewek yang kesepian, kasian >_< ” mendengar jawaban Indah, Azkia justru lebih tidak mengerti, karena Azkia merupakan seorang remaja kutu buku, penampilannya cupu, dia memakai kaca mata yang bulat, tebal, dan besar, rambutnya panjang dan selalu dikepang dua, begitu pula dengan pakainnya, sangat cupu >_<. Akhirnya sahabatnya yang bernama Indah dan Yunita, memutuskan untuk make over Azkia, agar terlihat lebih cantik, mereka membawa Azkia ke salon untuk dirapihkan rambutnya, lalu Azkia di bawa ke mall untuk membeli baju yang tidak cupu, setelah itu Azkia di bawa ke optic untuk membeli kaca mata yang berbentuk persegi panjang agar terlihat tidak cupu, kalau untuk dandan - mendandan Indah jagonya.

Besoknya, ketika Azkia sampai di sekolah bersama kedua sahabatnya yaitu Indah dan Yunita, semua orang terkagum – kagum melihatnya, seperti tidak percaya kalau itu,”( Azkia si anak kutu buku)”, begitu julukannya di sekolah.

Ketika guru masuk kelas, guru pun bertanya pada Azkia, “ apa kamu murit baru?”, Azkia menjawab “ bukan bu, ini saya Azkia, memangnya ibu tidak mengenali saya?”,
Bel istirahat pun tiba, ketika guru sudah keluar kelas, perbincangan para remaja pun tak kan terlewatkan. Mereka semua menghampiri Azkia, dan bertanya, “apakah benar ini kau, Azkia, (si anak kutu buku?) semua pertanyaan dari teman – teman sama semua, Azkia jadi bingung menjawabnya.

Pulang sekolah, David cowok yang Azkia sukai menghampirinya, ia bertanya langsung pada Azkia, “ apa benar ini kau Azkia, anak si kutu buku itu?” ucap David. “Tentu saja ini aku, Azkia yang suka kalian panggil dengan sebutan (Azkia si anak kutu buku).
“ Tapi aku tidak percaya ini kau, aku tidak lagi melihat wajah lugu mu yang lucu itu, o ya kenapa kau jadi berubah seperti ini?, aku lebih suka kau yang dulu dengan rambut yang dikepang dua dan kaca mata bulat mu yang lucu itu”. Ucap David.
“ Kenapa kau lebih suka aku yang dulu, dari pada aku yang sekarang?, tapi teman – teman lebih suka aku yang sekarang dari pada aku yang dulu?” Tanya Azkia.
“ karena mereka melihatmu hanya dari segi luar kalau aku melihatmu dari segi dalam, aku tidak melihatmu dari penampilannmu, tapi aku melihatmu dari kelakuanmu, dari sifatmu, dan dari hatimu karena itulah aku lebih suka dirimu yang dulu dari pada dirimu yang sekarang, dirimu yang dulu lebih natural”. Ucap David.
“ kenapa kau bicara seperti itu padaku?” Tanya Azkia.
“ mau tau ya?, rahasia!!!” Ucap David, setelah itu David pun lari meninggalkan Azkia.

Malam, Azkia pergi ke optic untuk membeli kaca mata bulat tapi tidak terlalu besar, dan ke mall untuk membeli rok panjang, karna rok panjangnya sudah dipotong.
Besoknya, ketika Azkia masuk kelas anak – anak melihatnya dengan dandanan naturalnya yaitu dandanan (Azkia si anak kutu buku) dengan kaca mata bulat walau agak berbeda/tidak terlalu besar, dan rambut dengan kepang dua, seperti biasanya.

Beberapa jam kemudian Indah dan Yunita terkejut ketika melihat sahabatnya mengubah penampilannya lagi, mereka pun bertanya “ kenapa kau mengubah penampilannmu lagi?”, “ aku sadar bahwa kita harus yakin dengan diri kita sendiri, tidak perlu malu dengan dandanan kita sehari – hari” ucap Azkia. “ apa maksudmu” Tanya Indah, “ jawabannya mudah, (BERSYUKUR)” ucap Azkia.

Pulang sekolah ketika Azkia sedang berjalan dengan sahabatnya yaitu Indah dan Yunita, tiba – tiba David menghampiri mereka, “ nah seperti ini dandanan yang kusukai” ucap David. “ cyeeeeeeee ^_^, kayaknya ada yang lagi mau nembak ni yeee” Indah dan Yunita meledek.
“ o, y Vid kamu belum jawab pertanyaanku, apa maksudmu berkata seperti itu” Tanya Azkia.

David pun menjawab “ hmmm, mau kah kamu jadi pacarku?, aku sudah lama suka sama kamu, dan aku lebih suka dandananmu yang natural seperti ini” “ uuuuuuuuh so sweeeet” Indah dan Yunita meledek. “ mau, kamu yang sudah bikin aku sadar, bahwa kita harus bersyukur dengan dandanan yang sudah bikin kita nyaman” ucap Azkia.

Malamnya, Azkia menulis diary , “sekarang aku sudah tau apa yang dimaksud CINTA, walapun kita baca buku yang banyak, sesering mungkin, kita tidak akan pernah mengerti, kalau kita belum mengalami sendiri, akhirnya, Azkia bahagia dan berkata :
“CINTAKU BERSEMI DI PUTIH ABU – ABU”

# I'LL WAITING FOR YOU
Karya Phelina
Aku mengenakan sebuah gaun berwarna coklat selutut dengan sebuah syal melingkari leherku. Dengan cepat aku mengambil tas dan payung transparanku keluar kamar asramaku. Di luar hujan sangat deras. Aku membuka payung dan berlari keluar untuk mencari taksi. Hari ini aku akan menemui seseorang di sebuah bandara, seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Aku mengenalnya melalui situs jejaring sosial. Dia pria yang menyenagkan, umurnya 26 tahun, 5 tahun di atasku. Sayangnya ia tidak pernah memasang foto dirinya di sana dan menurut khayalanku, ia adalah seorang pria yang tampan, tinggi, dan putih, mengingat bahwa ia mengaku dirinya adalah keturunan chinese, sama denganku.

Setelah kurang lebih satu tahun aku mengenalnya, aku merasa aku mulai menyukainya, bahkan bisa dibilang aku jatuh cinta padanya. Konyol, memang, tapi aku tau hatiku tidak pernah berbohong. Kami tinggal di kota yang sama, tapi aku tidak pernah sekalipun menerima ajakannya untuk bertemu. Aku takut kecewa, takut bila semuanya tidak sesuai dengan harapanku, takut dia juga tidak menyukaiku dan hubungan kami akan kandas begitu saja. Dia memaklumi alasanku untuk tidak menemuinya. Aku senang ia mau memahamiku.
Namun kemarin saat kami sedang mengobrol di chatting, kabar buruk itu datang secara mendadak. Pria itu bilang bahwa ia akan keluar negeri untuk waktu yang lumayan lama dan kemungkinan kami untuk sering ngobrol pun akan berkurang. Aku sedih sekali mendengarnya, aku ingin sekali bertemu dengannya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk menyusulnya ke bandara hari ini. Aku juga sudah memberitahunya hal ini dan ia sangat antusias dengan keputusanku ini.

Sialnya hari ini aku bangun kesiangan. Pesawat akan berangkat pukul 11 dan aku baru bangun pukul 10. Dengan cepat aku mandi, mungkin mandi tercepat yang pernah kulakukan dan langsung berangkat ke bandara. Dan di sinilah aku berada, di dalam taksi yang tengah melewati jalanan yang ramai menuju bandara. Hatiku sangat gelisah. Aku terus saja memandangi jam tangan, sebentar lagi pukul 11 dan aku masih setengah perjalanan.

Singkat cerita, aku sampai di bandara pukul 11.15, pupus sudah harapanku untuk bertemu dengannya. Tapi aku masih berharap bisa bertemu dengannya, aku berharap pesawatnya akan mengalami delay. Aku langsung berlari menuju sebuah cafe di mana aku dan dia berjanji untuk bertemu kemarin. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling cafe, berusaha mencari sosok pria yang kucari, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, tapi aku berharap instingku bisa diandalkan kali ini. Begitu banyak pengunjung di cafe itu dan aku tidak tau pria itu di mana.
"Ada yang bisa saya bantu?" seorang wanita pelayan cafe menghampiriku.
"Ah, aku sedang mencari seseorang."
"Apakah anda yang bernama Xiao Ling?"
"Ah iya! Dari mana anda tau?"
"Tadi ada seorang pria yang menitipkan pesan bahwa ia sudah harus pergi ke ruang tunggu pesawat dan ia menitipkan surat ini."

Aku kecewa dan kakiku langsung lemas. Sudah terlambat, aku tidak bisa lagi menemuinya.
"Tapi tadi saya dengar pesawat yang ditumpangi pria itu mengalami delay setengah jam. Anda pasti mengharapkan seperti itu bukan? Pria itu juga berharap begitu, tadi ia mengatakannya padaku."
"Benarkah?"
"Pergilah."
"Apa?"
"Kejar dia. Mungkin dia masih ada di ruang tunggu pesawat."
Aku mematung sejenak kemudian tersenyum gembira.
"Baiklah, terima kasih!"

Aku pun berlari sambil menangis. Aku sungguh berharap aku masih sempat. Sambil menggenggam surat darinya, aku tidak berhenti berlari. Sesampainya di ruang tunggu aku mengedarkan padanganku. Aku terus berdoa dalam hati, kembali mengandalkan instingku untuk mengenalinya. Aku menutup mata, meminta bantuan Tuhan untuk menemukannya. Tapi saat kubuka mataku dan kembali memandangi seluruh ruangan, aku belum juga menemukannya. Ya, Tuhan, yang mana dirinya? Mengapa susah sekali mengenalinya? Kenapa dia tidak pernah memasang fotonya di situs sosial itu? Dasar bodoh!

Tiba-tiba saja mataku tertuju pada satu titik. Ada seorang pria tidak jauh dariku yang sedang memainkan ponselnya dengan serius. Sesekali ia mendekatkan ponsel itu di telinganya. Pria itu tampak gelisah. Wajahnya putih dan tampan, sesuai dengan khayalanku tentang pria yang kukenal itu. Lalu aku tersadar. Ponsel! Mengapa aku begitu bodoh? Sekarang aku hidup di jaman apa?! Aku kan bisa menghubungi ponselnya. Bodoh sekali aku.

Aku mengeluarkan ponsel dari tasku. Ada 20 misscall di sana. Sejak kemarin aku memang men-silent ponselku, kebiasaanku saat hendak tidur supaya aku tidak terganggu dengan bunyi SMS di pagi-pagi buta dan aku lupa mengaktifkan nada deringnya lagi karena bangun kesiangan. Betapa terkejutnya saat kubuka siapa yang misscall itu. Semuanya dari pria itu. Aku hendak meneleponnya balik saat tiba-tiba ponselku berdering lagi dan jantungku berhenti berdetak begitu melihat namanya. Pria itu! Berarti ia belum naik ke pesawat. Harapanku kembali timbul. Aku berdebar-debar saat mengangkatnya.
"Ha.. Halo.." kataku grogi.
"Hei, akhirnya kau angkat juga. Kau di mana? Tidak jadi datang? Kau tidak apa-apa kan? Aku menunggumu dari tadi. Aku khawatir sekali. Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?" nadanya terdengar kecewa dan cemas. Aku senang ia mengkhawatirkanku.
"A.. Aku bangun kesiangan. Maaf.."
"Syukurlah, aku kira kau kenapa-kenapa. Jadi kau sekarang masih di asrama?"

Aku terdiam. Haruskah aku mengakuinya? Sejujurnya aku masih takut untuk menemuinya, tapi kapan lagi? Ini kesempatan terakhirku.
"Aku.. Aku sudah di bandara."
"Apa?! Kau dimana?" suara pria itu terdengar sedikit keras sehingga aku menjauhkan sedikit ponselku. Seketika itu juga aku melihat pria tampan tadi berdiri dari kursinya dan melihat-lihat ke sekelilingnya. Jantungku semakin berdetak cepat. Apakah pria itu yang aku cari?
"Da Dong ge (kakak laki-laki dalam bahasa mandarin), kau di mana sekarang? Kau pakai baju apa?" aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku sudah di ruang tunggu bandara. Aku memakai kemeja berwana biru dan celana putih. Hey, kenapa kau menanyakan hal itu? Kau di mana sekarang?"
"Aku.. Aku sedang melihatmu, ge.. Aku juga ada di ruang tunggu sekarang."
Ya benar! Pria tampan itulah yang sedang kucari, dan begitu mendengar jawabanku pria itu terdiam sejenak. Matanya mengelilingi ruang tunggu dan kemudian berhenti saat pandangannya terarah kepadaku. Jantungku berdebar cepat. Da Dong mengenaliku? Benarkah?

"Kau mengenakan gaun coklat dengan syal hitam di lehermu?"
Aku melihat pria itu menggerakkan bibirnya sambil terus menatap ke arahku. Ponselnya masih di telinganya. Aku mengangguk pelan.
"Iya.."
Pria itu kemudian menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana. Ia berjalan menghampiriku. Jantungku semakin cepat berdetak, rasanya ingin pingsan saja. Pria tampan itu benar-benar Wang Dong Cheng, yang biasa aku panggil Da Dong. Dialah pria yang selama setahun ini membuat hari-hariku semakin berwarna. Dialah pria yang kucintai, meski aku tidak pernah bertemu dengannya.

Semakin dekat ia berjalan, langkahnya semakin cepat. Perlahan aku menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku gaunku, tepat saat Da Dong sudah berdiri di hadapanku.
"Kau.. Xiao Ling?"
Aku mengangguk. Air mataku sudah tak terbendung. Aku bahagia, akhirnya aku bisa bertemu dengannya.
"Hey, kenapa kau menangis?" Da Dong menghapus air mataku dengan jarinya yang hangat. Hatiku senang dan hangat karena sentuhannya.
"Kau.. tidak kecewa bertemu denganku?" aku bertanya dengan hati-hati.
"Kenapa aku harus kecewa? Kau.. cantik.. Rambutmu.. Kupikir rambutmu panjang seperti di foto profilmu. Makanya aku tidak mengenalimu tadi."
"Y.. Ya.. Aku memotong rambutku 3 bulan yang lalu. Itu foto lamaku. Ke.. kenapa? Terlihat aneh?"
"Tidak. tentu saja tidak. Kau.. cantik.. sungguh.."

Aku tersenyum.
"Kau sendiri? Tidak kecewa bertemu denganku? Kau selalu bilang bahwa kau takut kalau kita bertemu. Kau takut kecewa saat tau wajahku tidak seperti bayanganmu kan?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Hey, kita sudah satu tahun berteman. Walaupun aku tidak pernah bertemu denganmu, bukan berarti aku tidak mengenalmu. Aku tau semua isi hatimu."
Wajahku memerah. Semua isi hatiku? Apakah dia juga tau bahwa aku menyukainya?
"Jadi? Kau kecewa?" tanyanya lagi.
"Tidak. Sama sekali tidak. Aku senang, sungguh."
"Karena wajahku tampan? Karena itukah kau senang? Tapi jika wajahku jelek, kau akan kecewa?"

Bukan! Bukan itu maksudku.. Bagaimana mungkin ia berpikir seperti itu?!
"Hahaha.." tiba-tiba ia tertawa. "Aku hanya bercanda. Aku tau kau tidak akan kecewa bagaimanapun penampilanku. Kau sudah datang ke sini saja, itu sudah menandakan bahwa kau serius berteman denganku, tidak peduli bagaimana wajahku nantinya kan?"
Aku mengangguk cepat. Aku memang menyukainya, tidak peduli bagaimana penampilannya. Mungkin aku memang akan sedikit kecewa apabila tidak sesuai dengan khayalanku selama ini, tapi aku sudah terlanjur menyukainya, mencintainya!

"Kau suka padaku?" pertanyaan yang terlontar dari mulutnya membuatku terbelalak.
"A.. apa?"
"Hahaha.. Kau ini lucu sekali!"
Ugh, ternyata ia hanya mempermainkanku! Aku merengut.
"Ehm.. Maaf.. Tapi.. Pertanyaanku serius. Kau menyukaiku?"

Aku jadi salah tingkah. Wajahku memanas. Haruskah aku mengatakan ya? Tapi jika ia tidak punya perasaan yang sama, bagaimana?
"Sayang sekali bila kau tidak menyukaiku. Berarti aku baru saja patah hati."
"Apa?" Maksudnya? Dia..?
"Aku menyukaimu. Ehm.. Aku mencintaimu." Da Dong memandang mataku dengan tatapan yang sangat dalam. Wajahku kembali memanas, pasti sekarang wajahku sudah memerah sekarang.
"Kau menyukaiku?" aku bertanya ragu.
"Ya.." Da Dong menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. "Mungkin ini terdengar bodoh, padahal aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi setiap kali aku ngobrol denganmu di telepon, atau bahkan melihat namamu sedang online, hatiku berdebar, aku senang sekali, ingin selalu berbagi cerita denganmu dan mendengar semua kegiatanmu. Semua ceritamu itu membuatku merasa, kau adalah wanita yang ceria. Walau mood-mu gampang berubah, tapi aku menyukainya. Aku.. menyukaimu."
"Kau.. Kau tidak bodoh.." aku akhirnya berani bersuara. "Karena aku.. merasakan apa yang kau rasakan." kataku perlahan.
"Benarkah?" Da Dong tersenyum lebar, matanya berbinar-binar, membuatku ingin sekali memeluknya.
Aku mengangguk pasti.

Da Dong memelukku dengan cepat. Membuatku sedikit terkejut karena baru saja aku berpikir ingin memeluknya. Kami berpelukan lama sekali, tidak peduli semua mata tertuju pada kami.
"Pesawat _______ akan segera berangkat. Diharapkan semua penumpang memasuki pesawat." informasi itu membuat hatiku mencelos. Inikah saatnya aku akan berpisah dengan Da Dong? Secepat ini?
"Xiao Ling." Da Dong berbisik di telingaku, kami masih saja berpelukan.
"Ya?" aku berusaha tegar, air mataku sudah mengumpul di pelupuk mata tapi aku menahannya.
"Maukah kau menungguku? Tiga tahun. Apakah terlalu lama?"
"Tentu saja tidak. Aku akan menunggu." Jangan pergi! Aku ingin sekali meneriakkannya.
"Aku akan berusaha menghubungimu kapanpun aku sempat."
"Take your time, ge. Jangan mengkhawatirkanku. Jaga dirimu ya."
"Kau juga. Aku akan segera kembali. Aku janji."

Da Dong melepas pelukannya dan mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak beludru berwarna merah. Ia membukanya dan tampaklah sebuah cincin yang sangat indah.
"Maukah kau memakainya? Mungkin ini bukan cincin mahal yang pantas kuberikan padamu. Tapi aku janji, tiga tahun lagi aku akan kembali dan menukarnya dengan cincin yang lebih indah dari ini, dengan namaku terukir di dalamnya.."
Aku mengangguk. Air mataku pun mengalir.
"Jangan menangis. Oke?" Da Dong menghapus lagi air mataku dan memakaikan cincin itu di jari manis kananku. Kemudian mencium keningku.
"Sampai jumpa." katanya lalu mengambil kopernya. Menatapku sejenak, tersenyum dan melambaikan tangan sambil melangkah menuju pesawat. Aku pun membalas lambaian tangannya dengan senyuman.

Aku akan menunggumu, Da Dong ge. Aku janji. Sampai jumpa! Wo ai ni ♥

Diadaptasi dari Sebuah Mimpi Pribadi
oleh: Phelina Felim
pemeran wanita: Xiao Ling (nama asli)
pemeran pria: Wang Dong Cheng (diambil dari nama penyanyi dan aktor Taiwan)

TAKUT JATUH CINTA
Karya Nur Faida

Pasti kalian sudah bisa nebak jalan cerita inikan! Begini waktu aku kelas 2 SMP aku tak tahu kenapa dan kebodohanku bisa – bisanya menyukai seorang cowok yang cuek banget walau begitu dia memiliki wajah tampan dengan kulit yang putih mulus , hidung mancung dan bibir yang seksi. Dulu diriku mengira dia juga menyukainya tapi nyatanya tidak.aku sangat bodoh sekali karena waktu itu aku yang tak punya malu malah menembaknya, tolol bangetkan aku. Semenjak itu mataku terbuka lebar bahwa aku tak pentas menyukai seorang cowok seperti itu ditambah kepopulerennya sekolah , aku sadar tiada orang yang menyukaiku karena gimana tidak aku itu orangnya pesek,kulitku hitam ditambah ku jerawatan lagi tapi itu waktuku masih SMP. Tak pernah lagi ku berharap dan memberikan hatiku pada seseorang karena takutku yang hanya ada di otakku sekarang hanya 1 “MEMBANGGAKAN ORANGTUAKU”

O iya, sebelumnya kuperkenalkan diriku dulu yah. Aku bernama Mimi Niamin dengan kulit putih dan muka yang bersih tanpa jerawat. sekarang ku kelas 2 di suatu sekolah SMA di Bandung. Aku sebenarnya tinggal di Makassar tetapi aku pindah rumah karena Ayahku dan Ibuku udah cerai , aku ikut sama Ayahku maka akupun tinggal di Bandung sedangkan ibuku tinggal di rumah mamanya di Makassar bersama adik laki – lakiku yang sekarang berumur 12 tahun. Aku pindah bertepatan setelah hal memalukan itu. Pasti semua teman – temanku mengira aku pindah sekolah karena kejadian itu tetapi itu tidak benar walau begitu aku sedikit senang bercampur sedih karena disisi lain aku bisa kabur dari kejadian itu tetapi disisi lainnya keluargaku sudah hancur. Tapi ada hal yang membuatku senang karena ibu tiriku itu ternyata sangat baik , dia selalu mau mendengar curhatanku walau begitu aku lebih sayang ibu kandungku dan hari ini aku ingin minta izin sama ibu tiriku dan ayah bahwa aku ingin tinggal di rumah nenekku. sebenarnya Ayahku melarangku karena takut nanti terjadi apa –apa padaku tapi aku bersikeras karena sudah lebih 3 tahun aku tidak pernah bertemu ibuku jadi ayahkupun mengizikanku tinggal di Makassar walau hanya 2 minggu.,
Takut Jatuh Cinta
^In Makassar^
“Wahh..! Makassar sudah berubah nih”ujarku yang sudah berada di luar bandara Hassanudin sambil memegang tas besar.

Kulihat Taksi tidak jauh dari aku , maka akupun melangkah kakiku menuju taksi itu dan tidak butuh 10 langkah aku sudah sampai disana.
“Mau naik taksi dek.!”tanyax padaku maka akupun tersenyum simpul sambil mengangguk menandakan bahwa aku memang ingin naik taksi , pak sopir pun mengambil tasku dan menyimpannya di bagasi lalu akupun masuk ke dalam Taxi, di dalam Taxi pak sopir itu bertanya padaku “Mau kemana dek?” akupun menajwab sambil tersenyum “ Jalan Sunu”jawabku singkat dan Taxi pun meluncur menuju kesana.
Akupun sampai di mana rumah nenekku berada, dimana ibuku dan adikku tinggal tak lupa aku membayar biaya Taxi dulu.
“Ini mas uangnya , kembaliannya di ambil saja”ujarku lalu menuju ke rumah nenekku.

Di depan ruma nenekku aku langsung saja mengetuk pintu sambil mengucapkan salam dan tak butuh waktu lama pintu itu terbuka.
“Rudi!”ujarku kaget sambil membulatkan mataku karena yang membukakan pintu itu sosok cowok Cinta pertamaku,Kenapa ini! Kenapa dia berada di rumah nenekku. Astaga , ini sungguh menyebalkan sekali. Rasanya kepalaku puyeng bener karena saat melihat Rudi aku jadi teringat kejadian itu, ingin rasanya ku kabur mendapati Rudi berada di rumah nenekku tetapi ku terlalu kangen sama Ibuku dan Adikku jadi nggak jadi deh.
Rudi juga tak kalah kagetnya melihatku berada di sini “Mimi!”

Hening tak ada yang berbicara tapi itu tak berlangsung lama karena adikku Didi memecahkan kehinangan itu di balik pintu “Kak Rudi , siapa yang....”belum selesai Didi bicara sambil memegang cemilan dan dia mendapatkan aku berada di depan pintu , Didipun sontak memelukku karena gimana tidak? 3 tahun we...! ehrr.. pastilah adikku kangen denganku.
“Kakak, kenapa kakak baru datang. Aku sungguh sangat kangen sama kakak”ujarnya kegirangan melihatku berada disini
“Maaf yah Didi”pintaku sambil melihat kedepan dimana berada Rudi yang sedang memperhatikanku dengan reaksi yang sulit ku tebak
“Kak , ayo masuk! O iya , kakak masih kenalkan Rudi teman kelas kakak waktu SMP”ujarnya meyuruhku masuk sambil bertanya padaku
“Yah”ujarku sangat singkat dan dingin.

^Flashback^
Di dalam kelas yang masih ada banyak sisiwa
“Mimi,lohh pikir ulang dulu deh! Gue takut loh napa – napa”ujar Rini sahabatku khawatir denganku
“Rin , ku sudah tidak tahan”ujarku sambil menitikkan air mata
“Tapi Mimi , loh taukan Rudi itu. Ku mohon jangan lakukan itu !jangan gegabah Mi. Aku takut sekali”ujarnya menyuruhku mempertimbangkan bahwa aku akan menembak Rudi
“Kamu tak perlu khawatir Rin, gue nggak gak apa – apa kok!”ucapku lalu menuju ke Pintu kelas dimana Rudi berada
“Rudi , jujur aku sangat menyukaimu!”ujarku saat keluar main dimana Rudi yang baru saja mau keluar ke kelas dengan Nino sahabatnya. Sungguh aku tidak tahan sekali menyimpan perasaanku lebih 2 tahun
“Hah.. nyadar dongg luu tuhh nggak selevel sama gue! Ngaca dulu dong. Apa gue harus beliin dulu lohh kaca baru nyadar. Buang – buang tuh perasaan loh. Lebih baik loh kasih perasaan itu sama tempat sampah ajah”ujar Rudi dengan kalimat pedas padaku sambil memasang muka jijit. Di dalam kelasku semuanya ribut karena kelakuanku.
Aku tak menyangka apa yang dikatakannya itu , air mataku pecah akupun langsung keluar dari kelas disusul Rini mengekorku.Ku sekarang berada di belakang Lab Bahasa Indonesia sambil menangis dan terus menangis dan Rinipun mengahmpiriku “Mi, gue kan udah bilang. Ku mohon berhentilah menangis , jangan hanya karena cowok seperti dia kau jadi seperti ini. Masih banyak kok cowok di dunia ini!”selanya padaku sambil memelukku menyuruhku menghentikan tangisanku tetapi bukannya tangisanku berhenti tapi aku lebih menangis lagi.
“Mi , gue mohon jangan menangis!”pintanya padaku yang tak henti – hentinya menangis “Ren, makasih yah kau selalu membantuku di dalam suka dan duka”ujarku menghentikan tangisanku dan Renipun tersenyum mengembang “Itulah gunanya sahabat Mimi”
***

Aku duduk di ruang tamu , bisa kulihat Rudi meminta izin pada Didi untuk pulang.
“Di , gue pulang dulu yah. Nggak enak nih ada kakak loh”ujar Rudi pada adikku dengan memegang kaset bola
“baiklah kalo gitu , aku mengerti kok maksud kakak”ujarnya
“Okayy, gue duluan dulu yah.”ujar Rudi permisi sama Didi

Didi menemani Rudi pulang sampai di depan rumah dan tak lama kemudian Didipun kembali di susul ibuku yang baru pulang dari pasar.
“Ibu...!aku kangen banget sama ibu”ujarku dan langsung berdiri dari tempat dudukku
“Mimi...!”ujar ibu kegirangan dan langsung menuju ke aku lalu memelukku
Aku begitu senang sekali bisa bertemu ibuku begitupula dengan adikku. Ku lihat ibu mengalami perubahan dengan dirinya. Wajah ibu berubah menjadi pucat dan keriput dan adikku berubah menjadi anak remaja yang gagah dan tampan.

Didi membawakan barangku ke kamar tamu dan aku mengekor mengikutinya. Di dalam kamar ku hempaskan diriku di tempat tidur dan adikku duduk di sampingku.
“Di , kenapa Rudi tadi disini?”ujarku bertanya penasaran
“Tadi aku sama kak Rudi lagi main Playstasion kak. kenapa kakak nanya – nanya?”jawab Didi dan bertanya padaku
“ tidak apa – apa kok”ujarku takut karena nanti adikku curiga padaku
Keesokan harinya aku olahraga pagi di taman kota Makassar sebenarnya adikku mau menemaniku tapi karena hari ini dia sekolah jadi Didi tidak bisa.

Di taman , ku berlari pagi mengelilingi taman sambil membawa tas ransel berisi Leptop dan saat asyik – asyiknya aku berlari ada seorang cowok yang menabrakku dari depan memakai baju putih abu – abu dengan 5 buku tulis dipegangnya terjatuh.
“Maaf, gue nggak nggak sengaja”ujar cowok itu tapi aku tak melihat mukanya dengan jelas lalu diapun mengambil bukunya yang terjatuh “aku kok yang salah. Sini aku bantu”ujarku dan akupun membantunya mengambil bukunya yang terjatuh dan tak sengaja mataku dengan cowok itu bertemu dan akupun tahu siapa cowok itu.
“Rudi!”ujarku kaget karena aku bertemu lagi dengan Rudi. Mengapa ini terjadi lagi? Bisa gila aku lama – lama karena bertemu terus dengan Rudi. Semenjak Rudi menolakku aku jadih trauma untuk menyukai seseorang sampai sekarang dan entah kenapa sekarang perasaan cintaku pada Rudi kembali lagi. Ini sungguh sangat menyebalkan -__- aku pun berlari dengan cekatan sambil menitikkan air mata meninggalkan Rudi yang juga kaget melihatku bertemu denganku lagi.

Ku berlari secepatnya karena ketakutan , setiap kali ku lihat Rudi kalimat itu terbayang – bayang di otakku “Hah.. nyadar dongg luu tuhh nggak selevel sama gue! Ngaca dulu dong. Apa gue harus beliin dulu lohh kaca baru nyadar. Lebih baik loh kasih perasaan itu sama tempat sampah ajah” kalimat pedas yang di dengar oleh semua temanku di kelas. Rasanya sakit banget saat menginggat itu.
“Mimi, maafin gue soal dulu! Gue mohon Mi”teriak Rudi memohon sambil berlari mengejarku
Akupun mempercepat lariku dan kebetulan saat itu aku melihat mobil pete – pete, aku langsung saja masuk dalam mobil itu dan menyuruhnya cepat jalan.
Mobil pete – pete itu berjalan, air mataku berjatuhan terus menerus membasahi pipiku yang agak putih. Diriku sekarang memang udah berubah , aku jadi putih dan mukaku sekarang sudah tidak ada jerawat lagi itu semenjak ibu tiriku selalu membawaku kepertawatan kulit jadi aku menjadi lebih cantik.

Di dalam mobil pete – pete ku baru sadar kalau penumpangnya hanya aku bersama seorang cowok yang pakaian sekolahnya mirip dengan Rudi.
“Mimi..!loh Mimikan”ujarnya bertanya padaku
“Yah..”jawabku dan saat itu ku perhatikan muka cowok itu dan menghentikan tangisanku. Disitu aku baru sadar bahwa cowok itu adalah Nino sahabat Rudi.
“hai Nino”ujarku menyapa dan bukannya membalas sapaanku tapi Nino malah bertanya “Mi , loh napa menangis! Apa karena Rudi . tadi gue lihat koh kamu sama Rudi berlari – larian”
Saat dia katakan itu , aku menangis lagi.Jantungku sesak banget , rasanya kepalaku puyeng benar dan belum sempat ku jawab pertanyaannya aku langsung jatuh pingsan.

^Rumah Nenek^
Mataku terbuka sedikit – demi sedikit di atas ranjang tidurku. Kulihat Rudi menitikkan air mata berada di sampingku dan saat dia melihatku mataku sudah terbuka diapun tersenyum senang melihatku.
“Mi, loh udah sadar”gumam Rudi padaku
“Kenapa loh ada disini. Loh keluar sana. Gue benci sama loh”teriak diriku yang kesal sekali.
“Mi, gue minta”belum sempat Rudi selesai aku langsung mem berontak dan lebih keras berteriak “Gue bilang loh keluar!”
Mamaku dan adikku begitupula dengan nenekku menyuruhku tenang tapi ku lebih memberontak dan saat Rudi keluar dari kamarku ditemani Didi akupun tenang. aku memang orang tidak baik , tapi ku tak bisa melupakan semuanya. Hatiku sakit sekali, sulit ku maafkan Rudi.

Satu minggu kemudian , aku duduk sendiri di taman memperhatikan mobil maupun motor berlalu lalang ditemani burung – burung berkicaun dan pohon – pohon yang menari – nari memberi semangat diriku. Aku yang terlalu fokus memperhatikan keindahan taman tidak sadar bahwa Rudi sudah berada di sampingku.
“Mimi”ujar Rudi yang membuatku kaget mendengar perkataanya, sontak saja ku berdiri dan bersiap untuk lari tapi tanganku ditahan olehnya dan Rudi langsung memelukku “Mi , gue mohon maafin gue. Loh tau smenjak kejadian itu gue baru sadar kalo gue itu mencintai lohh, saat tiada loh , gue tidak bisa menyukai siapapun. Hidup gue rasanya nggak berarti, Hanya loh yang ada di hati gue. Gue mohon maafin gue Mi , gue memang udah terlambat tapi bisakah kau mendengarkannya”
“Loh bohong Rudi, loh pasti suka gue setelah melihatku sekarangkan”ujarku tak percaya mendengar perkataannya “Gue nggak bohong, tatap mata gue. Tatap...?”ujarnya menyuruhku menatap matanya , akupun menatap matanya dan kulihat tiada tanda kebohongan darinya.
“Mi , maafin gue yah. Gue sayang banget sama loh. Jangan lagi menghindar dai gue, ku mohon! Dulu dan sekarang tiada bedanya loh. Gue tetap sayang loh gimanapun dirimu. Gue suka lohh dari dalam diriloh bukan diluar loh”ujarnya yang membuatku menitikkan air mata.
“Yah, gue juga sayang sama loh”ujarku
Hariku penuh dengan tawa yang indah tiada lagi kesedihan semenjak Rudi berada di sampingku. Cinta pertamaku itulah menjadi cinta terakhirku. Aku sangat menyayanginya, perasaanku yang sudah ku pendam 6 tahun tidak sia – sia.
RUDI.. I LOVE YOU:)

0 komentar:

Posting Komentar