“PERJUANGANKU”
Kini
aku telah duduk dibangku SMA.Ya, SMA N AJIBARANG merupakan salah satu SMA
terfaforit dikalangan pelajar. Di SMA ini terkenal dengan murid-muridnya yang
berotak encer. Terbukti dengan adanya sejumlah piala yang berjejer rapi dari
berbagai event yang diikuti.
Namun
dibalik itu semua, banyak rintangan dan usaha yang kujalani untuk dapat
bersekolah di sekolah yang elite ini.
Kesusahan
ini ku mulai, sewaktu aku sudah memasuki kelas 9 SMP. SMP ku dulu juga termasuk
SMP yang lumayan terfaforit yaitu SMP N 2 AJIBARANG.
Hari-hari
biasa ku jalani dengan menerima pelajaran dan ulangan harian yang sudah menjadi
lalapan biasa. Namun, pada bulan Oktober tak bisa ku percaya Ulangan Tengah Semester
pun telah datang. Buku-buku pun mau tak mau harus kubaca agar aku bisa
mengerjakan.
Setelah
Ulangan Tengah Semester selesai, tanpa ku kira, tiba-tiba saja langsung disusul
dengan kegiatan uji coba Ujian Nasional
atau tri out-1.
Selang
tiga minggu setelah tri out-1, disusul kemudian tri out ke-2. Dari tri out
ke-2, ada moving class (pergantian kelas) berdasarkan nilai tri out. Ternyata
nilaiku hanya mengantarkanku dikelas 9B bukan 9A yang terkenal faforit.
Awal
Desember seperti biasa diadakan Ulangan Akhir Semester. Namun kali ini terasa
berbeda karena merupakan Ulangan Akhir Semester terakhir bagiku. Seperti pada
umumnya, setelah Ulangan Akhir Semester diadakan class meeting. Di kegiatan
itu, aku gunakan untuk bersenang-senang melepas kejenuhanku bersama
teman-temanku.
Pertengahan
Desember, hatiku sedikit bebas dari belenggu. Dibulan itu, ada pengambilan Laporan
Hasil Belajar (raport) dan juga bertepatan dengan hari ulang tahunku. Sebenarnya
terbesit rasa kecewa karena aku tak bisa masuk 5 besar ranking dikelas. Aku
hanya dapat ranking 7. Namun, aku tetap bersyukur karena itu merupakan rahmat Alloh.
Libur
panjang menghiasi hari-hariku. Sekitar setengah bulan aku dirumah merenung
memikirkan masa depanku esok,esok dan esok. Entah apa yang akan ku dapat. Dan
aku semakin larut dalam keheningan itu.
Memasuki
tahun baru 2012, aku sudah mulai membereskan lagi buku-buku tebal yang
berserakan dimeja belajarku. Mulai diperkenalkan lagi dengan pelajaran sekolah.
Akhir Januari, aku dihadapkan lagi tri
out ke-3. Ya, masih sama. Soal-soal itu lagi. Yang membuatku bosan.
Aku
tak tahu, kenapa tubuhku semakin lemah tak berdaya dan otakku pun lelah tuk
berfikir. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri “ kapankah aku dapat keluar
dari belenggu yang selalu ada dihidupku ini ?”. Diam. Tak ada yang menjawab.
Bulan
februari, sekolah mengadakan tri out dari kabupaten banyumas yang juga
menandakan itu tri out ke-4. Nilaiku tiba-tiba saja down. Semangatku pun semakin
pudar. Konsentrasiku juga buyar.
Awal
bulan Maret, ada latihan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah. Yah, tanpa ku sadari
nilai tri outku semakin ambruk. Seperti diterjang angin badai. Lalu, akupun
kembali merenung “mengapa aku menjadi seperti ini, mungkin karena fisikku tak
kuat lagi menahan beban dan ingin beristirahat”.
Setelah
hal itu berlalu, aku sedikit senang dengan kegiatan ujian praktik. Aku sangat
menikmati dalam menjalani ujian praktik bersama teman-temanku. Aku dapat
belajar dan tahu apa arti kerjasama,toleransi dan lain-lain.
Oh
ya, waktu ujian praktik seni budaya ada peristiwa unik yang terjadi. Ketika
itu, aku menampilkan tarian kreasi
bersama keempat temanku. Di akhir gerakan tarian, aku maju kedepan untuk
mengekspresikan gayaku. Namun karena aku orangnya pemalu , secara reflect aku
mengomel sendiri . “ huft, cepetan selesai dong musiknya”. Tanpa kusadari,
omonganku itu terdengar oleh teman-temanku yang menonton sehingga mereka
serempak tertawa.
Akhir
Maret, aku semakin gelisah karena Ujian Sekolah sudah dimulai. Demi mencapai nilai tinggi, aku semangat sekali
dalam belajar. Disamping itu, aku juga tak lupa berdoa kepada Alloh dan meminta
restu dari orang tua.
Awal
April, diadakan tri out terakhir yaitu tri out ke-6. Disitu aku mulai bangkit
dengan semangat yang membara. Entah dorongan dari mana aku semakin optimis. Alhamdulilah
nilaiku kembali normal. Aku tak lagi down. Apalagi ini sudah memasuki bulan April.
Tinggal beberapa hitungan hari saja Ujian Nasional akan dilaksanakan.
Yah,
betul. Hari itu cepat berlalu. Tepat dua
minggu setelah Tri Out ke-6, Ujian Nasional pun datang. Hal ini membuat
jantungku berdetup kencang. Setiap pagi,siang dan sore aku terus membaca buku
tanpa mengenal lelah. Aku juga tiada hentinya memohon petunjuk dari Alloh dan
meminta doa dari orang tua agar semuanya lancar. Tak lupa juga aku meminta maaf
atas kesalahan yang pernah ku perbuat terhadap bapak ibu guru serta adik-adik
kelasku yang juga akan menjadi generasi berikutnya.
Ujian
Nasional sangat mencekam. Aku merasa sangat deg-degan, namun aku selalu
pasrahkan kepada Alloh. Dan aku hanya bisa berusaha semaksimal mungkin selagi
aku bisa.
Di
hari akhir Ujian Nasional aku berteriak sangat keras. Aku seperti melepaskan
beban dari diriku. Lalu aku bersyukur kepada Alloh, atas rahmatnya aku bisa
mengikuti Ujian Nasional sampai selesai.
Ya,
memang melewati Ujian Nasional itu seperti bebas dari penjara yang sangat
membelenggu. Namun bagiku tidak, ini merupakan awal perjuanganku untuk mencapai
keinginanku berikutnya yaitu masuk SMA N AJIBARANG.
Bulan
Mei, sudah tak ada lagi aktivitas belajar mengajar seperti biasa di kelas 9.
Yang terlihat hanya anak-anak kelas 9 yang mondar-mandir kesekolah untuk
menyelesaikan masalah sekolah. Seperti ; cap tiga jari, pengambilan SKHU,
latihan untuk perpisahan dan ada juga yang hanya ingin bersendau gurau dibawah
pohon yang rindang. Namun beberapa diantaranya lebih memilih beristirahat
dirumah.
Melihat
itu semua, aku merasa akan kehilangan teman-temanku. Mungkin dulu sering
berkumpul, saling tegur sapa, bercanda , belajar bersama sampai terjalin
keakraban yang indah dan menyatu sebagai keluarga. Namun sebentar lagi harus
berpisah, melepas semua keakraban dan kegembiraan untuk mencapai satu hal yaitu
cita-cita dan kesuksesan masing-masing. Hanya doa yang kupanjatkan kepada Alloh
agar semua berhasil.
Walupun
begitu, aku takkan hanyut dan larut dalam kepedihan ini karena semua kenangan
manis yang pernah kurasakan akan ku simpan selalu dihatiku.
Bualn
Juni, tepatnya hari Sabtu. Hari perpisahan pun tiba. Kulihat jam di tanganku
sudah menunjukan pukul 08.30. Bola mataku melihat kesana-kesini tampak sudah
banyak anak-anak kelas 9 berkumpul. Mereka semua tampak cantik dan tampan dengan
baju kebaya dan jas hitam yang menghiasi tampilan mereka, termasuk aku.
Waktu
itu aku memakai kebaya warna merah dan aku memakai kerudung berwarna hijau
muda. Aku tak tahu mengapa banyak orang keheranan melihatku memakai kerudung. Tapi mungkin itu merupakan
penampilan baru dalam hidupku.
Dengan
diiringi lagu jawa dan musik gamelan yang terdengar halus ditelinga , dengan
gaya lemah gemulai dan gagah perlahan-lahan semua murid berjalan menuju kursi
yang telah disediakan berdasarkan kelas masing-masing.
Kulihat
ibuku sudah duduk manis disamping tempat dudukku. Lalu aku menghampirinya
dengan senyum dan langsung duduk disampingnya.
Acara
berlangsung diawali dengan persembahan berbagai jenis tarian. Ada tari modern,
jawa dan kreasi yang ditampilkan oleh adik-adik kelas.
Selama
acara berlangsung, aku dan ibuku pun bercakap-cakap dan kerap kali kami
bercanda.
“
Dain, yang duduk didepanmu ini temanmu ?“. Tanya ibuku dengan suara berbisik
padaku.
“
Ya ibu. Memang kenapa ibu ?” aku pun menjawab dan berbalik tanya pada ibuku.
“
Dia lucu sekali, badannya gemuk dan pakaiannya warna hijau seperti Nyi Roro
Kidul”. Canda ibuku.
Akupun
ikut tertawa dalam candaan itu. Aku baru merasakan begitu dekatnya aku dan
ibuku dalam event itu. Namun aku juga tau ibu mengajakku bercanda agar aku
lebih rileks (santai) karena dari tadi aku terus menggenggam jari jemari ibuku
hingga berkeringat.
Setelah
acara persembahan tarian selesai, dilanjutkan dengan sambutan dari bapak kepala
sekolah yang sekaligus mengumumkan hasil kelulusan. Aku amati sekeliligku,
nampak banyak anak yang tegang.
Dengan
suara yang membuat suasana tegang bapak kepala sekolah melontarkan beberapa
kata.
“
Dari hasil Ujian Sekolah dan Ujian Nasional, SMP N 2 AJIBARANG dinyatakan lulus 100%”.
“Horeeeee”.
Serempak semua anak berteriak bersuka cita.
Kemudian
semua wali kelas mengalungi anak kelasnya masing-masing dengan selempang yang
bertuliskan “Kridaning Nawasiwi”. Aku juga tak tahu apa makna tulisan itu namun
bagiku itu merupakan nama bagi alumnus angkatanku (2011-2012). Dan setelah itu,
semua anak juga bersalaman dengan wali kelas.
Selain
itu, ada kategori untuk nilai tertinggi dan ranking 10 besar paralel. Waktu itu
aku hanya tertunduk lemas , bersyukur karena lulus. Tiba-tiba saja, MC atau
pembawa acara mengumumkan siswa yang nilai bahasa indonesianya tertinggi yaitu
9,80. Dan aku sangat terkejut ketika namaku juga terpanggil. Aku sangat senang
sekali karena ibuku juga terlihat bangga padaku. Seperti mimpi saja, namun itu
memang kenyataan. Tak pernah terbesit dihati akan berdiri dipanggung dengan
meraih sebuah keberhasilan yang luar biasa.
Lalu
aku berjalan menuju panggung dengan rasa percaya diri. Aku tak menyangka akan
bisa maju kepanggung dengan menerima hadiah dan bersalaman serta ucapan selamat
dari bapak ibu guru.
Diakhir
acara, ada sebuah lawakan pentas seni yang
diperankan oleh anak-anak kelas 8. Tema dalam pentas seni itu adalah asal-usul
ajibarang. Disetiap adegan penonton dibuat tertawa dan kagum terhadap pemeran
pentas itu.
Setelah
acara selesai, banyak teman-temanku mengucapkan selamat padaku termasuk guru
faforit bahasa indonesiaku yaitu ibu muryati.
“
Selamat ya Dainty, dapat nilai bahasa indonesia tertinggi”. Ucap bu Muryati sambil bersalaman denganku.
“
Iya ibu, terima kasih”. Jawabku singkat dengan mengumbar senyum padanya.
Ya
memang aku tak bisa meraih rangking paralel, namun aku bangga pada diriku
sendiri. Aku mempunyai prestasi yang baru aku sadari dan prestasi itu
menunjukan bahwa aku bisa melakukan suatu hal dengan usaha. Harapanku
selanjutnya adalah aku ingin bisa bersekolah di SMA N AJIBARANG.
Setelah
kelulusan, aku tak begitu saja duduk manis dirumah. Aku selalu mencari
informasi mengenai pendaftaran di SMA N AJIBARANG. Jujur saja dalam keluargaku
ada sedikit masalah tentang dimana aku akan melanjutkan sekolahku. Kakak
pertamaku sangat mendukung aku untuk mendaftar di SMA N AJIBARANG, sedangkan
kakak keduaku menyarankan agar aku melanjutkan di SMK MUHAMADIYAH 2 AJIBARANG.
Kedua
saran itu pada awalnya membuatku sangat galau. Namun aku mengambil keputusan
untuk mendaftar di dua sekolah yang disarankan kakak-kakakku itu.
Di
SMA N AJIBARANG mendaftar saja ternyata sangat ribet. Pertama menggunakan jalur
raport, ternyata aku tak berhasil. Lalu aku coba cara kedua yaitu menggunakan
jalur tes. Ya, aku berusaha semaksimal mungkin dengan belajar yang giat.
Beberapa hari kemudian, ada pengumuman. Aku
sudah sangat pasrah kepada Alloh. Dengan perlahan- lahan ku buka amplop yang
membuatku sedikit ragu. Lalu kutemukan satu kata didalam amplop itu yaitu“
DITERIMA”. Aku langsung mengucap syukur karena aku diterima di SMA yang menjadi
idamanku.
Sesudah
pengumuman penerimaan siswa baru, diselenggarakan kegiatan MOS. MOS atau yang
disebut juga Masa Orientasi Siswa merupakan masa pengenalan siswa baru dengan
lingkungan sekolahnya.
MOS
diselenggarakan selama 5 hari. Memang dalam kegiatan MOS banyak hal aneh yang
harus diperbuat.
Dihari
pertama, dengan memakai kalung nama , membawa tas lanski bening serta rambut
diikat dan diberi pita warna merah aku berangkat dari rumah pagi-pagi ke
sekolah baruku itu. Memang aturan berangkat dari rumah sebelum jam 7 pagi. Jadi
aku berangkat pagi-pagi sekali.
Sebenarnya
kegiatan MOS di SMA N AJIBARANG sangat mendidik. Kegitannya seperti menulis
kultum pagi di folio, membuat bahan mading, menulis lagu daerah dan lagu nasional,
membuat proposal di kertas hvs dengan tulis tangan, menulis pembukaan UUD 1945
dengan tulisan latin, menulis pancasila dan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari, kerja bakti, menulis berita, menulis biografi tokoh idola, membuat
artikel tentang olahraga dan tokoh sastrawan. Serta ada kegiatan bakti sosial
untuk anak-anak tidak mampu. Dan dalam kegiatan membuat proposal ternyata
punyaku yang terbaik. Alhamdulillah usahaku tak sia-sia. Memang aku sudah
mempersiapkan membuat sebuah proposal sebaik mungkin.
Didalam
kegiatan MOS memang banyak sekali suara keras yang keluar dari mulut para
anggota OSIS, apalagi yang jabatannya tinggi. Namun semua itu dilakukan agar
semua murid baru tak meremehkan mereka.
Di
hari akhir kegiatan MOS, semua siswa baru dibagikan buku tentang MOS dan
didalamnya terdapat banyak informasi mengenai SMA N AJIBARANG. Dan juga semua
siswa harus meminta tanda tangan pada anggota OSIS, serta para guru dan staf
karyawan.
Namun
ada scor tertentu pada setiap anggota OSIS, para guru dan staf karyawan. Jadi
scor tertinggi adalah 100 dan terendah 45. Dalam meminta tanda tangan akan
diberi waktu, jika waktu telah habis maka buku akan dikumpulkan lagi pada OSIS
untuk dilihat. Setelah itu buku akan dikembalikan lagi pada semua siswa baru.
Semua
siswa baru terlihat lari berhamburan tak jelas arahnya. Aku pun begitu, berlari
dan terus berlari untuk mendapatkan tanda tangan.
Dan
untuk mendapatkan tanda tangan, itupun tak semudah yang dibayangkan. Apalagi
jika meminta tanda tangan ke anggota OSIS.
“Nama
kakak siapa coba ?”. tanya seorang anggota OSIS kepada siswa baru yang ingin
meminta tanda tangannya.
Ada
juga yang menanyakan kelas dan pengetahuan umum lainnya kepada siswa baru yang
ingin mendapatkan tanda tangan.
Setelah
kegiatan meminta tanda tangan selesai, hal yang paling aku suka ketika
bersalaman dengan semua anggota OSIS. Mereka seketika menampakan raut wajah
yang berbeda. Mereka terlihat ramah, halus dan penuh kasih sayang terhadap
semua siswa baru.
Dari
semua hal yang pernah aku alami, itu semua merupakan perjuanganku hingga
mencapai suatu hal yang aku dambakan. Dan sekarang aku sangat bangga menjadi
siswa SMA N AJIBARANG. Aku akan berusaha selalu membawa nama baik sekolah
tercintaku ini hingga aku lulus. Perjuanganku tak akan berhenti disini sampai
aku mencapai cita-citaku yang sebenarnya. :D









0 komentar:
Posting Komentar